Pages

Tampilkan postingan dengan label tentang kotaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tentang kotaku. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Agustus 2010

foto2 bandung tempo doeloe

Bulan Oktober dan November 2009 yang lalu di Bandung diadakan festival komunitas kreatif yang bernama Helarfest (baca kegiatan ini di sini). Nah, panitia Helarfest memajang foto-foto Bandung tempo doeloe seukuran papan billboard. Foto-foto itu dipajang pada tiang penyangga jalan layang Pasupati di sepanjang jalan Cikapayang. Pengendara yang melewati jalan di bawah jembatan layang ini tentu dapat menikmati forto-foto besar yang menampilkan kota Bandung pada awal abad 20. Hingga sekarang foto-foto besar itu masih dipajang.
Kemarin saya menyempatkan diri turun dari kendaraan dan memfoto foto-foto yang menarik itu sepanjang jalan Cikapayang. Sebagai penggemar foto, saya sangat suka mengabadikan hal-hal menarik yang saya lihat sepanjang perjalanan. Berikut hasil jepretan saya (dengan kamera ponsel). Klik foto untuk melihat lebih besar.
1. Foto perempatan jalan A.Yani dan Jalan Riau (Martadinata) pada tahun 1920.

2. Jalan Riau pada tahun 1917.

3. Alun-alun Bandung pada tahun 1938.

4. Jalan Asia Afrika pada tahun 1920

5. Jalan Braga pada tahun 1911

6. Kampus ITB pada tahun 1920

7. Kologdom (markas militer) pada tahun 1923

8. Jalan antara Kopo dan Ciwidey pada tahun 1880

9. Masjid Agung dan alun-alun Bandung pada tahun 1890

10. Seputar GOR Saparua pada tahun 1930

11. Taman Balaikota pada tahun 1920


Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

bandung tempo doeloe

28 tahun sudah saya menghuni kota ini (ups, jadi ketauan deh umur saya), kota nan elok yang kini telah menjadi lautan api, mari bung rebut kembali. (doh malah jadi nyanyi…) okey, back to topik hidayat… Kata tante WikiKota Bandung adalah ibu kota provinsi Jawa Barat. Kota ini pada zaman dahulu dikenal sebagai Parijs van Java atau “Paris dari Jawa”.
Karena terletak di dataran tinggi, Bandung dikenal sebagai tempat yang berhawa sejuk. Hal ini menjadikan Bandung sebagai salah satu kota tujuan wisata.  Yang menarik perhatian saya dari kota ini adalah, Bandung memiliki banyak sekali bangunan-bangunan tempo dulu yang hingga saat ini masih bisa dinikmati. Meski banyak yang sudah berubah fungsi, namun ciri khas arsitektur zaman Belanda masih melekat erat pada bangunan-bangunan tersebut.

contoh foto di atas, merupakan bangunan yang hingga saat ini masih memiliki bentuk yang sama dengan tempo dulu. Bangunan ini terletak di jalan belitung, yang saat ini menjadi bangunan SMA 5 dan 3 Bandung. atau kita naik sedikit ke arah barat, ada bangunan yang dulunya merupakan pusat bursa dagang, di mana setiap tahunnya diadakan pameran dagang dan pasar malam di sana. Saat ini, gedung tersebut telah menjadi gedung markas komando pendidikan dan latihan (MAKODIKLAT) TNI Angkatan Darat.

ada pula gedung yang telah mengalami perubahan dari bentuk aslinya, namun tetap memiliki nuansa tempo dulu yang kental. Contohnya adalah gedung Concordia yang didirikan pada tahun 1895 yang kemudian dihacurkan dan dibangun kembali pada tahun 1921 oleh arsitek Belanda ternama, C.P. Wolff Schoemaker, di mana hingga saat ini masih bisa lihat kemegahan nya di jalan Asia Afrika. Gedung ini sekarang lebih dikenal dengan sebutan Gedung Merdeka.

Tentu saja ada juga sekali bangunan yang sudah tidak meninggalkan sedikitpun ciri khas nya, contohnya ada bangunan pasar baru Bandung yang telah mengalami banyak sekali perubahan.

Contoh lain bangunan yang sudah banyak sekali mengalami perubahan adalah Mesjid Agung Bandung yang terletak di alun-alun Kota Bandung di mana saat ini telah berubah nama menjadi Masjid Raya Bandung. Atau yang paling hebat adalah Mall Bandung Indah Plasa yang terletak di jalan Merdeka, ternyata dulunya merupakan hotel yang terkenal di kota Bandung yaitu Hotel Flat Olcott Park. Flat Olcott Park sempat berubah nama menjadi Hotel Pakunegara sebelum berubah menjadi salah satu mall terkenal di kota Bandung. melestarikan sejarah serta budaya merupakan hal yang harus dilakukan oleh pemerintah negeri ini. Gedung-gedung yang memiliki nilai sejarah serta catatan sejarah penting harus dirawat dan dilestarikan dengan baik. Jangan sampai anak cucu kita nanti tidak tahu bahwa kota ini memiliki sejarah yang luar biasa penting. keep bandung beautifull euy…. :D     Foto dan sumber diambil dari (saya haturkan terima kasih) :) .
sumber di copas dari 
http://dudhynanda.blogspot.com/2010/05/bandung-tempo-dulu.html
Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

pagi hari di Kiara Condong

Ritual pagi, sebelum mulai bekerja, adalah melakukan perjalanan yang sedikit melelahkan menuju tempat kerja. Bagaimana tidak, hampir setiap hari pula harus melalui jalan Kiaracondong yang dikenal sebagai salah satu titik kemacetan di Kota Bandung.

Kircon
Puncak kemacetan di Kiaracondong terjadi di pagi hari atau sore hari. Namun hampir setiap saat kemacetan pun kerap melanda jalan yang saat ini dikenal sebagai Jalan Ibrahim Adjie.
Penyebab kemacetan Kiaracondong di pagi hari adalah munculnya pasar tumpah dari Pasar Kiaracondong. Para pedagang kerap memenuhi area jalan ini hingga bahu jalan. Akibatnya, tumpukan para pedagang yang diikuti oleh berjubelnya pembeli menyebabkan badan jalan yang dapat dilalui oleh kendaraan semakin sempit. Para pedagang ini tersebar mulai dari arah menuju Jalan PSM hingga ke arah jalan masuk menuju stasiun lama Kiaracondong.
Kemacetan ditambah lagi dengan adanya pintu perlintasan kereta. Sudah menjadi pengalaman setiap orang yang melewati perlintasan jalan ini. Kemacetan bisa cukup panjang. Diperparah lagi dengan seringnya pintu perlintasan yang ditutup begitu lama, padahal kereta masih belum kunjung melintasi jalan ini. Namun, apabila diambil segi positifnya, petugas penjaga pintu perlintasan kereta api mungkin saja sengaja menutup pintu perlintasan jauh sebelum kereta muncul. Hal ini untuk menghindari terjadinya kecelakaan dan menghindari jalan perlintasan kereta api dilewati orang-orang atau kendaraan.
Menuju arah Jalan Jakarta, kemacetan pun tidak berhenti disitu. Beberapa meter sebelum ujung jalan laying masih saja banyak kerumunan pedagang di depan lokasi industry tersebut. Walaupun tidak separah di sekitar pasar, kemacetan kerap terjadi di titik ini.
Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

sekilas sejarah Bandung

Kota Bandung tidak berdiri bersamaan dengan pembentukan Kabupaten Bandung. Kota itu dibangun dengan tenggang waktu sangat jauh setelah Kabupaten Bandung berdiri. Kabupaten Bandung dibentuk pada sekitar pertengahan abad ke-17 Masehi, dengan Bupati pertama tumenggung Wiraangunangun. Beliau memerintah Kabupaten bandung hingga tahun 1681.

Semula Kabupaten Bandung beribukota di Krapyak (sekarang Dayeuhkolot) kira-kira 11 kilometer ke arah Selatan dari pusat kota Bandung sekarang. Ketika kabupaten Bandung dipimpin oleh bupati ke-6, yakni R.A Wiranatakusumah II (1794-1829) yang dijuluki "Dalem Kaum I", kekuasaan di Nusantara beralih dari Kompeni ke Pemerintahan Hindia Belanda, dengan gubernur jenderal pertama Herman Willem Daendels (1808-1811).
Untuk kelancaran menjalankan tugasnya di Pulau Jawa, Daendels membangun Jalan Raya Pos (Groote Postweg) dari Anyer di ujung barat Jawa Barat ke Panarukan di ujung timur Jawa timur (kira-kira 1000 km). Pembangunan jalan raya itu dilakukan oleh rakyat pribumi di bawah pimpinan bupati daerah masing-masing.
Di daerah Bandung khususnya dan daerah Priangan umumnya, Jalan Raya pos mulai dibangun pertengahan tahun 1808, dengan memperbaiki dan memperlebar jalan yang telah ada. Di daerah Bandung sekarang, jalan raya itu adalah Jalan Jenderal Sudirman - Jalan Asia Afrika - Jalan A. Yani, berlanjut ke Sumedang dan seterusnya. Untuk kelancaran pembangunan jalan raya, dan agar pejabat pemerintah kolonial mudah mendatangi kantor bupati, Daendels melalui surat tanggal 25 Mei 1810 meminta Bupati Bandung dan Bupati Parakanmuncang untuk memindahkan ibukota kabupaten, masing-masing ke daerah Cikapundung dan Andawadak (Tanjungsari), mendekati Jalan Raya Pos.
Rupanya Daendels tidak mengetahui, bahwa jauh sebelum surat itu keluar, bupati Bandung sudah merencanakan untuk memindahkan ibukota Kabupaten Bandung, bahkan telah menemukan tempat yang cukup baik dan strategis bagi pusat pemerintahan. Tempat yang dipilih adalah lahan kosong berupa hutan, terletak di tepi barat Sungai Cikapundung, tepi selatan Jalan Raya Pos yang sedang dibangun (pusat kota Bandung sekarang). Alasan pemindahan ibukota itu antara lain, Krapyak tidak strategis sebagai ibukota pemerintahan, karena terletak di sisi selatan daerah Bandung dan sering dilanda banjir bila musim hujan.
Sekitar akhir tahun 1808/awal tahun 1809, bupati beserta sejumlah rakyatnya pindah dari Krapyak mendekali lahan bakal ibukota baru. Mula-mula bupati tinggal di Cikalintu (daerah Cipaganti), kemudian pindah ke Balubur Hilir, selanjutnya pindah lagi ke Kampur Bogor (Kebon Kawung, pada lahan Gedung Pakuan sekarang).
Tidak diketahui secara pasti, berapa lama Kota Bandung dibangun. Akan tetapi, kota itu dibangun bukan atas prakarsa Daendels, melainkan atas prakarsa Bupati Bandung, bahkan pembangunan kota itu langsung dipimpin oleh bupati. Dengan kata lain, Bupati R. A. Wiranatakusumah II adalah pendiri (the founding father) kota Bandung. Kota Bandung diresmikan sebagai ibukota baru Kabupaten Bandung dengan surat keputusan tanggal 25 September 1810.
Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO